Shopee 9.9: Saat Content, Entertainment, dan Commerce Menjadi Satu Experience

Shopee 9.9: Saat Content, Entertainment, dan Commerce Menjadi Satu Experience

Shopee baru saja menutup rangkaian 9.9 Super Shopping Day 2026 pada 9 September.

Sepanjang periode kampanye, Shopee menghadirkan berbagai mekanisme seperti Voucher Mania, Super Deals, jutaan produk dengan diskon, hingga rangkaian thematic days seperti Super Fashion Day, Shopee Live Day, dan Super Beauty Day. Kampanye tahun ini juga menggandeng Naykilla dan Tenxi melalui adaptasi lagu Kasih Aba-Aba 2.0 yang kemudian ikut berkembang menjadi konten di berbagai platform digital. Shopee Indonesia

Namun, hal yang menarik dari 9.9 kali ini bukan hanya promonya.

Yang lebih relevan untuk diperhatikan brand adalah bagaimana content, entertainment, engagement, dan commerce mulai dirancang sebagai satu customer experience.


Shopping Campaign Tidak Lagi Hanya Tentang Diskon

Selama ini, momentum seperti 9.9, 10.10, atau 11.11 sering identik dengan satu strategi utama: memberikan diskon sebesar mungkin.

Namun, pola campaign e-commerce mulai berkembang.

Dalam Shopee 9.9, misalnya, pengalaman tidak hanya dibangun melalui harga. Ada musik, talent, social content, interactive campaign, gamification melalui Voucher Mania, live shopping, hingga thematic promotion yang berjalan dalam satu ekosistem. Voucher Mania sendiri menggunakan mekanisme permainan berbasis papan interaktif dan progression untuk memberikan kesempatan mendapatkan voucher dengan nilai berbeda. Shopee Indonesia

Artinya, campaign bukan lagi sekadar alasan untuk checkout.

Campaign juga menjadi alasan untuk datang, melihat, berinteraksi, menemukan produk, dan kembali lagi.

Di sinilah batas antara content dan commerce semakin tipis.

 

Dari Content Menuju Commerce

Customer hari ini bisa menemukan produk dari banyak tempat.

Mereka mungkin pertama kali melihatnya dari TikTok, Instagram, creator, live shopping, video campaign, atau bahkan sebuah lagu yang sedang viral. Setelah itu, mereka mulai mencari produk, membaca review, membandingkan pilihan, hingga akhirnya melakukan pembelian.

Kolaborasi Shopee dengan Naykilla dan Tenxi menunjukkan pola tersebut dengan cukup jelas. Kasih Aba-Aba 2.0 tidak hanya digunakan sebagai materi iklan, tetapi juga berkembang menjadi sound dan konten yang digunakan kembali oleh pengguna di media sosial. Shopee Indonesia

Customer journey akhirnya tidak lagi terlihat seperti:

Ads → Product Page → Checkout

Tetapi semakin menyerupai:

 Content → Interest → Engagement → Discovery → Commerce

Perubahan ini penting karena brand tidak hanya bersaing pada produk atau harga, tetapi juga pada seberapa baik mereka menghubungkan setiap tahap tersebut.

 

Apa Artinya untuk Brand E-commerce?

Brand tentu tidak perlu membangun campaign sebesar marketplace.

Namun, prinsip yang sama dapat diterapkan pada skala yang lebih relevan.

Ketika memasuki momentum seperti 10.10, 11.11, atau 12.12, pertanyaannya sebaiknya bukan hanya:

“Berapa diskon yang akan diberikan?”

Tetapi juga:

“Experience apa yang akan ditemukan customer ketika mereka datang?”

Banyak brand masih menjalankan campaign dengan mengganti hero banner di homepage, menambahkan countdown, kemudian mengarahkan semua traffic menuju halaman collection yang sama.

Strategi tersebut dapat bekerja, tetapi meninggalkan banyak ruang untuk menciptakan pengalaman yang lebih kuat.

 

Campaign Landing Page Bisa Menjadi Experience Tersendiri

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membuat campaign landing page khusus untuk setiap momentum besar.

Alih-alih hanya menampilkan promo, halaman tersebut dapat menjadi pusat campaign yang menghubungkan campaign story, visual, curated products, bundles, creator content, limited-time offers, social proof, countdown, hingga call-to-action menuju product page atau checkout.

Dengan Shopify, campaign page juga tidak harus berdiri sebagai website terpisah.

Brand dapat membangun experience khusus yang tetap terhubung dengan product catalog, inventory, customer data, analytics, dan Shopify Checkout.

Dengan begitu, campaign memiliki identitas dan journey sendiri tanpa mengganggu struktur storefront utama.

 

Homepage dan Campaign Page Memiliki Fungsi yang Berbeda

Homepage harus melayani banyak kebutuhan sekaligus.

Ada first-time visitors, returning customers, customer yang sedang mencari produk tertentu, hingga pengguna yang hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang brand.

Campaign page memiliki tujuan yang jauh lebih spesifik.

Customer datang dengan konteks tertentu, sehingga messaging, product selection, promotion, dan CTA dapat dirancang untuk membawa mereka menuju satu objective.

Karena itu, campaign landing page yang baik bukan sekadar homepage dengan banner berbeda.

Halaman tersebut seharusnya menjadi bagian dari conversion journey.

 

Jangan Hanya Menciptakan Promo. Ciptakan Moment.

Shopee 9.9 memberikan gambaran bagaimana commerce semakin dekat dengan entertainment, content, dan engagement.

Bagi brand, bukan berarti setiap campaign harus memiliki musisi, creator besar, atau gamification yang kompleks.

Pelajarannya justru lebih sederhana:

Promo memberikan alasan untuk membeli. Experience memberikan alasan untuk terlibat dengan brand.

Menjelang 10.10, 11.11, dan 12.12, brand memiliki kesempatan untuk melihat campaign bukan hanya sebagai periode diskon, tetapi sebagai sebuah customer journey yang dirancang secara khusus.

Karena ketika kompetisi e-commerce semakin ketat, storefront yang baik saja belum tentu cukup.

Brand perlu memastikan bahwa content, experience, dan commerce bekerja sebagai satu perjalanan menuju conversion.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please note, comments must be approved before they are published

Related Posts
Kapan Brand Sudah Siap Punya Webstore Sendiri? 7 Sinyal yang Perlu Dilihat Sebelum Mulai
Shopify B2B Indonesia: Bisakah Wholesale dan DTC Benar-Benar Disatukan?
Shopify Mobile App untuk Brand Indonesia: Saat Website Saja Tidak Lagi Cukup
Migrasi ke Shopify: Panduan Data, SEO & Integrasi
Biaya Shopify Indonesia 2026: Berapa Budget yang Sebenarnya Dibutuhkan?
Maximize Conversion, Minimize Risk. Strategi A/B Testing Menggunakan SimGym & Rollouts
Customer Retention vs Acquisition: Berhenti 'Bakar Uang' dan Mulai Bangun Profit Skalabel di Shopify