Marketplace telah menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis digital di Indonesia. Dengan jutaan pengguna aktif dan kemudahan memulai berjualan, tidak sedikit brand yang berhasil berkembang berkat marketplace. Namun, seiring meningkatnya skala bisnis, muncul tantangan baru yang mulai dirasakan banyak pelaku usaha.
Banyak bisnis berhasil meningkatkan jumlah pesanan setiap bulannya. Namun, di balik tingginya omzet tersebut, tidak sedikit yang justru merasa keuntungan yang diperoleh tidak berkembang secara signifikan. Hal ini terjadi karena berbagai biaya operasional terus bertambah, mulai dari biaya admin, komisi platform, biaya layanan, hingga biaya iklan yang hampir menjadi kebutuhan agar produk tetap kompetitif. Akibatnya, margin keuntungan menjadi semakin tipis meskipun penjualan terus meningkat.
Melalui webinar kolaborasi Expatify dan KiriminAja berjudul "Profit Lebih Besar Tanpa Marketplace", dibahas bagaimana bisnis dapat mulai membangun channel penjualan sendiri sebagai langkah untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bukan berarti meninggalkan marketplace, tetapi melengkapinya dengan aset digital yang benar-benar dimiliki oleh brand.
Omzet Naik, Tapi Profit Belum Tentu Ikut Bertambah

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah mengukur keberhasilan bisnis hanya dari jumlah transaksi atau omzet. Padahal, indikator yang tidak kalah penting adalah berapa keuntungan bersih yang benar-benar dapat dinikmati setelah seluruh biaya operasional dikurangi.
Selain biaya admin marketplace, seller juga harus memperhitungkan berbagai komponen lain seperti komisi platform, program gratis ongkir, biaya affiliate, hingga biaya iklan. Bahkan dalam beberapa kondisi, total potongan tersebut dapat mencapai sekitar 25â30% dari harga jual produk. Dengan kata lain, semakin besar volume penjualan, semakin besar pula nominal biaya yang harus dibayarkan kepada platform.
Inilah alasan mengapa banyak bisnis merasa "jualan makin ramai, tetapi untungnya tidak ikut bertambah." Oleh karena itu, fokus pada pertumbuhan omzet saja tidak lagi cukup, bisnis juga perlu membangun strategi untuk menjaga profit tetap sehat.
Ketergantungan pada Marketplace Menjadi Tantangan Baru
Marketplace tetap menjadi channel yang sangat efektif untuk menjangkau pelanggan baru. Namun, ketika seluruh penjualan hanya bergantung pada satu platform, bisnis menjadi lebih rentan terhadap berbagai perubahan yang berada di luar kendali.
Perubahan algoritma, kenaikan biaya layanan, persaingan harga yang semakin ketat, hingga meningkatnya biaya iklan dapat langsung memengaruhi performa penjualan. Di sisi lain, brand juga memiliki keterbatasan dalam membangun hubungan langsung dengan pelanggan karena sebagian besar data customer berada di dalam ekosistem marketplace.
Oleh karena itu, semakin banyak brand mulai membangun channel penjualan sendiri agar memiliki kontrol yang lebih besar terhadap bisnisnya.
Website Bukan Pengganti Marketplace, Tetapi Pelengkap Strategi Penjualan

Banyak pelaku usaha mengira bahwa memiliki website berarti harus berhenti berjualan di marketplace. Faktanya, kedua channel ini justru dapat saling melengkapi.
Marketplace dapat tetap dimanfaatkan sebagai media untuk menjangkau pelanggan baru dan meningkatkan awareness. Sementara itu, website menjadi tempat bagi brand untuk membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, meningkatkan repeat order, serta memberikan pengalaman berbelanja yang lebih personal.
Dengan strategi ini, bisnis tidak hanya bergantung pada satu sumber penjualan, tetapi juga mulai membangun aset digital yang dapat terus berkembang. Lalu, apa saja keuntungan yang bisa diperoleh ketika bisnis mulai membangun channel penjualan sendiri?
Mengapa Brand Perlu Membangun Channel Penjualan Sendiri?
Membangun channel penjualan sendiri bukan hanya soal memiliki website, tetapi juga tentang membangun aset digital yang akan terus memberikan nilai bagi bisnis.
Meningkatkan Brand Value
Di marketplace, pelanggan sering kali lebih mengingat platform tempat mereka berbelanja dibandingkan nama brand itu sendiri.
Sebaliknya, website memberikan kebebasan bagi bisnis untuk membangun identitas brand melalui desain, storytelling, tampilan produk, hingga pengalaman berbelanja yang konsisten. Dengan begitu, pelanggan akan lebih mudah mengingat brand, bukan hanya tempat mereka membeli.
Memahami Perilaku Customer
Salah satu keuntungan terbesar memiliki website sendiri adalah akses terhadap data pelanggan.
Bisnis dapat mengetahui produk yang paling diminati, halaman yang paling sering dikunjungi, hingga perilaku customer selama proses pembelian. Insight tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi marketing yang lebih efektif, melakukan remarketing, hingga meningkatkan conversion rate.
Margin Keuntungan Lebih Maksimal
Tanpa berbagai potongan yang biasanya dikenakan marketplace, bisnis memiliki peluang memperoleh margin keuntungan yang lebih sehat.
Keuntungan tersebut dapat dialokasikan kembali untuk pengembangan produk, meningkatkan kualitas layanan, atau memperbesar anggaran pemasaran sehingga pertumbuhan bisnis menjadi lebih berkelanjutan.
Lebih Bebas Melakukan Ekspansi Bisnis
Website juga memberikan fleksibilitas yang lebih besar ketika bisnis ingin berkembang.
Mulai dari menjalankan promo sendiri, mengintegrasikan berbagai metode pembayaran dan logistik, membuat landing page campaign, hingga menjangkau pasar internasional. Semua dapat dilakukan tanpa harus menyesuaikan dengan kebijakan marketplace.
Memulai Channel Penjualan Sendiri Kini Semakin Mudah

Salah satu alasan mengapa banyak bisnis masih bertahan sepenuhnya di marketplace adalah anggapan bahwa membangun website membutuhkan biaya besar dan proses yang kompleks. Padahal, saat ini tersedia berbagai pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Website Custom
Bagi brand yang ingin memiliki kontrol penuh terhadap tampilan, fitur, dan pengalaman pelanggan, website custom menjadi pilihan yang tepat. Solusi ini cocok untuk bisnis yang sudah berkembang dan ingin membangun identitas brand secara maksimal sesuai kebutuhan.
Shopify
Bagi bisnis yang menginginkan platform e-commerce yang profesional namun tetap mudah dikelola, Shopify menjadi salah satu pilihan terbaik.
Melalui Shopify, bisnis dapat mengelola produk, pesanan, pembayaran, hingga berbagai integrasi seperti logistik, marketing, dan analytics dalam satu dashboard. Sebagai salah satu platform e-commerce terpopuler di dunia, Shopify juga memungkinkan brand untuk berkembang tanpa harus berpindah platform ketika skala bisnis semakin besar.
Checkout Link
Tidak semua bisnis harus langsung berinvestasi pada website custom. Jika masih berada pada tahap awal, Checkout Link dari KiriminAja bisa menjadi solusi praktis untuk mulai membangun channel penjualan sendiri. Seller cukup membuat halaman checkout siap pakai, kemudian membagikannya melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, atau channel promosi lainnya. Pembayaran dilakukan langsung ke rekening seller, proses pengiriman telah terintegrasi dengan layanan KiriminAja, dan fitur ini dapat digunakan tanpa biaya tambahan bagi pengguna KiriminAja.
Bangun Aset Digital untuk Pertumbuhan Bisnis yang Berkelanjutan
Marketplace akan tetap menjadi salah satu channel penting dalam strategi penjualan digital. Namun, mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya sumber penjualan dapat membatasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Membangun channel penjualan sendiri bukan berarti meninggalkan marketplace, melainkan menciptakan fondasi bisnis yang lebih kuat. Dengan memiliki aset digital sendiri, brand dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan, menjaga margin keuntungan tetap sehat, serta memiliki fleksibilitas untuk terus berkembang di masa depan.
Dengan strategi yang tepat, marketplace dan website dapat berjalan berdampingan untuk saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Di Expatify, kami membantu brand membangun toko online berbasis Shopify yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga siap mendukung pertumbuhan bisnis melalui berbagai integrasi, termasuk solusi logistik seperti KiriminAja. Dengan fondasi digital yang tepat, bisnis dapat tumbuh lebih mandiri, lebih efisien, dan siap menghadapi persaingan di era digital.