Cara customer menemukan dan membeli produk online mulai berubah, Selama ini journey-nya relatif familiar:
Google â Website â Product Page â Checkout â Purchase
Sekarang, melalui perkembangan Google AI Mode, Gemini, dan Shopify Agentic Storefronts, sebagian journey tersebut mulai dapat terjadi langsung di dalam AI experience.
Untuk Shopify store yang memenuhi persyaratan, customer dapat menemukan produk, memilihnya, memasukkan informasi pengiriman dan pembayaran, lalu menyelesaikan transaksi melalui Shopify-powered direct checkout tanpa harus membuka online store terlebih dahulu.
Secara sederhana, alurnya mulai berubah menjadi:
Google AI â Product Discovery â Direct Checkout â Shopify Order
Ini bukan sekadar tambahan sales channel.
Ini mulai mengubah dimana discovery terjadi, di mana conversion terjadi, dan bagian mana dari commerce journey yang masih dikontrol langsung oleh storefront.
Dan bagi merchant Shopify, ada satu hal yang sangat penting:
customer relationship tetap berada di sisi merchant.
Apa yang Sebenarnya Berubah?
Shopify menyebut pengalaman seperti ini sebagai bagian dari Agentic Storefronts.
Melalui Agentic Storefronts, produk Shopify dapat ditemukan di berbagai AI channel seperti Google AI Mode dan Gemini, Microsoft Copilot, Meta, serta channel AI lainnya yang didukung Shopify. Pengaturannya dapat dikelola dari satu area di Shopify Admin.
Untuk Google khususnya, product discovery menggunakan Google Merchant Center / Google & YouTube sales channel.
Artinya, ketika customer menanyakan sesuatu seperti:
âSaya butuh running shoes warna hitam untuk lari jarak jauh.â
AI bukan hanya memberikan link.
AI dapat memahami intent customer, menemukan produk yang relevan dari merchant, menampilkan pilihan, dan untuk pengalaman yang mendukungnya membawa customer sampai ke checkout.
Shopify dan Google juga mengembangkan Universal Commerce Protocol atau UCP, sebuah standar terbuka yang memungkinkan AI agent berinteraksi dengan sistem commerce dari discovery hingga checkout.
Dengan kata lain:
AI mulai bergerak dari search engine menjadi shopping interface.
Apakah Fitur Ini Sudah Tersedia untuk Merchant Shopify Indonesia?
Belum secara umum.
Ini salah satu hal yang penting untuk diperjelas.
Per September 2026, dokumentasi Shopify terbaru menyebut direct checkout Google AI Mode dan Gemini sedang rolling out dan untuk saat ini eligibility-nya mencakup Shopify store berbasis Amerika Serikat yang menjual kepada customer di Amerika Serikat serta memenuhi persyaratan Google Merchant Center.
Jadi untuk merchant Indonesia, berita ini sebaiknya tidak dibaca sebagai:
âBesok semua customer Indonesia bisa checkout Shopify dari Gemini.â
Belum.
Yang lebih penting adalah melihat arah perubahannya.
Shopify sudah membangun infrastrukturnya. Google sudah membangun commerce experience-nya. UCP sudah berkembang. AI channel semakin dekat dengan transaksi.
Pertanyaannya bukan lagi:
âApakah AI akan masuk ke e-commerce?â
Melainkan:
âSeberapa siap commerce infrastructure kita ketika channel ini mulai relevan untuk market Indonesia?â
Direct Checkout Aktif Secara Default untuk Merchant yang Eligible
Ada detail lain yang cukup penting.
Untuk store yang sudah eligible, Shopify menyatakan Google AI Mode dan Gemini direct checkout aktif secara default.
Merchant tetap dapat memilih.
Jika direct checkout tetap aktif:
Google AI â Shopify-powered checkout â Order masuk Shopify
Jika merchant mematikannya:
Google AI â Product Discovery â Online Store â Shopify Checkout
Pengaturan tersebut dapat dikelola melalui:
Shopify Admin â Sales Channels â Agentic â Google AI Mode and Gemini
Jadi merchant tidak kehilangan kontrol atas pilihan channel tersebut.
Ini penting karena tidak semua brand memiliki kebutuhan customer journey yang sama.
Untuk produk sederhana, direct checkout mungkin mengurangi friction.
Tetapi untuk produk yang membutuhkan edukasi panjang, bundling, personalization, upsell, loyalty experience, atau storytelling yang kuat, mengarahkan customer ke webstore bisa tetap memberikan value yang lebih besar.
AI Bisa Menjadi Tempat Checkout. Tapi Merchant Tetap Menjadi Merchant.
Ini bagian paling menarik dari arsitektur Shopify.
Shopify menyatakan bahwa order yang datang dari AI channel tetap masuk ke Shopify Admin dan merchant tetap memegang customer relationship serta post-purchase experience.
Order juga membawa channel atau referrer attribution sehingga merchant dapat mengetahui dari mana transaksi berasal.
Jadi modelnya bukan:
AI â Customer menjadi milik platform AI
Tetapi lebih dekat ke:
AI â Customer menemukan dan membeli â Order masuk Shopify â Merchant melanjutkan relationship
Ini berbeda dengan kekhawatiran yang sering muncul ketika brand terlalu bergantung pada third-party marketplace.
AI menjadi distribution dan transaction layer.
Shopify tetap menjadi commerce infrastructure di belakang transaksi tersebut.
Dan merchant tetap bertanggung jawab atas banyak hal setelah order terjadi: fulfillment, customer service, refund, retention, serta pengalaman customer berikutnya.
Namun Ada Trade-Off: Tidak Semua Checkout Experience Ikut Masuk ke AI
Di sinilah merchant perlu melihat agentic checkout secara lebih kritis.
Direct checkout Google AI Mode dan Gemini tidak identik dengan checkout di online store.
Shopify menjelaskan bahwa beberapa checkout customization mungkin tidak muncul dalam direct checkout. Misalnya, pengalaman tertentu yang melibatkan upsell, add-on, loyalty/rewards, custom field, trust content, chat, atau customization tertentu dapat berbeda atau tidak tersedia.
Beberapa jenis produk juga saat ini tidak didukung untuk direct checkout, termasuk product bundle, customizable product, dan B2B-only product.
Ini berarti keputusan antara:
Direct Checkout vs Redirect to Online Store
tidak seharusnya hanya dilihat dari:
âMana yang lebih cepat?â
Brand perlu mempertimbangkan:
Conversion Rate + Average Order Value + Upsell + Customer Experience + Tracking + Retention
Checkout yang lebih pendek belum tentu otomatis menghasilkan nilai bisnis yang lebih tinggi.
Tracking Juga Berubah
Ini area yang sangat penting untuk marketing team.
Google Analytics dan custom client-side pixels tidak berjalan seperti biasanya di Google AI Mode dan Gemini direct checkout. Shopify menyebut direct checkout menggunakan server-to-server events tertentu, sementara standard maupun custom client-side pixels tidak terpicu.
Artinya, marketer tidak boleh hanya melihat:
âApakah conversion naik?â
Mereka juga perlu memahami:
-
- Apakah attribution tetap cukup jelas?
- Apakah customer journey sebelum transaksi masih dapat dianalisis?
- Apakah retargeting signal berubah?
- Bagaimana dampaknya terhadap analytics stack yang digunakan sekarang?
Ini salah satu alasan mengapa agentic checkout sebaiknya diperlakukan sebagai commerce architecture decision, bukan sekadar toggle tambahan di Shopify Admin.
Product Data Menjadi Semakin Penting
Ketika customer membuka webstore, merchant masih memiliki banyak cara untuk membantu customer memahami produk.
-
- Ada banner.
- Collection page.
- Product recommendations.
- Navigation.
- Visual merchandising.
- Campaign landing page.
Tetapi ketika discovery terjadi melalui AI, AI perlu memahami produk dari data.
Google menggunakan data dari Google Merchant Center untuk discovery di Google AI Mode dan Gemini. Shopify juga menekankan pentingnya menjaga product information, pricing, inventory, serta store policies tetap akurat dan up-to-date.
Ini mengubah prioritas merchant.
Product data bukan lagi sekadar kebutuhan backend.
Ia mulai menjadi bagian dari marketing dan discoverability.
Semakin jelas informasi tentang produk, variant, category, availability, price, shipping, return policy, dan atribut lainnya, semakin mudah commerce system, termasuk AI. Memahami apa yang sebenarnya dijual.
Dari SEO ke GEO: Discovery Juga Sedang Berubah
Perubahan ini juga tidak hanya terjadi di checkout.
Shopify mencatat dalam data Q1 2026 bahwa referral session dari AI chatbot tumbuh lebih dari 8x year-on-year, sementara order yang berasal dari AI referral tumbuh hampir 13x. Data tersebut berasal dari ekosistem commerce Shopify, sehingga bukan berarti seluruh e-commerce dunia tumbuh dengan angka yang sama, tetapi arah perubahannya cukup jelas.
Inilah mengapa pembicaraan mulai bergeser dari hanya SEO (Search Engine Optimization) menuju GEO (Generative Engine Optimization).
SEO membantu halaman ditemukan di search engine.
GEO memperluas pertanyaannya:
Apakah AI memahami brand dan produk Anda cukup baik untuk merekomendasikannya?
Fondasinya tetap mirip:
website yang sehat, struktur informasi yang baik, content berkualitas, authority, product data lengkap, structured data, dan reputasi brand.
Yang berubah adalah siapa yang membaca data tersebut.
Bukan hanya manusia dan search engine crawler.
Tetapi juga AI agent.
Apakah Website Shopify Akan Menjadi Kurang Penting?
Tidak, tetapi perannya mulai berkembang.
Selama bertahun-tahun, website sering memegang hampir seluruh customer journey:
Discovery â Education â Product â Conversion â Relationship
Ke depan, discovery dan bahkan conversion bisa semakin tersebar ke berbagai surface.
-
- Google AI.
- Gemini.
- Copilot.
- Social commerce.
- Marketplace.
- Chat.
Tetapi brand masih membutuhkan tempat untuk membangun pengalaman yang lebih dalam.
Website tetap menjadi ruang untuk:
brand storytelling, campaign experience, merchandising, customization, customer account, content, retention, dan customer relationship.
Jadi pertanyaannya bukan:
âWebsite atau AI?â
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
âBagaimana website dan AI channel bekerja sebagai bagian dari commerce ecosystem yang sama?â
Ini sejalan dengan arah commerce yang lebih luas: channel bertambah, tetapi merchant tetap membutuhkan satu fondasi yang mampu mengelola product, customer, order, dan operations secara konsisten.
Apa yang Harus Disiapkan Merchant Shopify Indonesia Sekarang?
Tidak perlu menunggu direct checkout Google AI tersedia di Indonesia untuk mulai bersiap.
Area yang perlu diperhatikan sekarang adalah sebagai berikut:
| Â Area | Yang Perlu Dipastikan | Kenapa Penting |
| Product Data | Title, description, variant, category, attributes konsisten | AI membutuhkan data yang jelas untuk memahami produk |
| Inventory & Price | Selalu up-to-date | Rekomendasi AI harus mencerminkan availability aktual |
| Google Merchant Center | Feed dan Google & YouTube channel rapi | Menjadi foundation discovery di Google |
| Store Policies | Shipping, refund, return jelas | AI perlu memberikan informasi transaksi yang akurat |
| Checkout Architecture | Audit app, upsell, validation, loyalty, custom blocks | Sebagian experience belum tentu tersedia di agentic checkout |
| Tracking | Pahami server-side attribution dan limitations | Measurement berbeda dengan website checkout biasa |
| Post-Purchase | Email, fulfillment, service, retention tetap kuat | Customer relationship berlanjut setelah transaksi |
| Webstore | Tetap kuat sebagai brand & customer experience layer | Tidak semua customer journey akan selesai di AI |
Website Checkout vs Agentic Checkout: Jangan Menebak, Ukur
Ketika fitur seperti ini nantinya tersedia lebih luas, Expatify melihat satu prinsip yang penting:
jangan otomatis mengaktifkan atau mematikan direct checkout hanya karena channel-nya baru.
Ukur.
Brand sebaiknya membandingkan setidaknya:
Conversion rate, AOV, upsell performance, attribution, customer data capture, post-purchase engagement, repeat purchase, dan operational impact.
Direct checkout bisa menjadi channel conversion yang sangat efektif.
Tetapi untuk brand lain, online store mungkin tetap menghasilkan customer journey dan order value yang lebih kuat.
Jawabannya akan berbeda tergantung business model.
Â
Agentic Commerce Bukan Sekadar âChannel Baruâ
Inilah bagian yang menurut kami paling penting.
-
- Marketplace mengubah tempat brand menjual.
- Social commerce mengubah tempat customer menemukan produk.
- Mobile commerce mengubah perangkat yang digunakan customer untuk membeli.
Agentic commerce berpotensi mengubah siapa yang membantu customer mengambil keputusan dan di mana transaksi diselesaikan.
Itulah perubahan yang jauh lebih fundamental.
Merchant tidak lagi hanya mendesain storefront untuk manusia.
Merchant mulai perlu membangun commerce infrastructure yang juga dapat dipahami oleh system, platform, dan AI agent.
Dan semakin banyak channel yang muncul, semakin penting memiliki:
clean product data, reliable inventory, connected operations, measurable customer journey, dan commerce platform yang mampu menjadi source of truth.
Â
Apa Artinya untuk Brand Indonesia?
Untuk saat ini, fokusnya bukan buru-buru mengejar direct checkout Google AI.
Fokusnya adalah memastikan fondasinya siap.
Jika dalam beberapa tahun terakhir pertanyaannya adalah:
âApakah brand sudah siap punya webstore?â
maka pertanyaan berikutnya mulai menjadi:
âApakah commerce infrastructure brand sudah siap menjual di mana pun customer menemukan produk?â
Website.
Marketplace.
Social commerce.
Mobile app.
AI.
Channel akan terus berubah.
Fondasi commerce yang baik seharusnya tidak perlu dibangun ulang setiap kali channel baru muncul.
Â
Expatify Perspective
Sebagai Shopify Partner dan Shopify Expert di Indonesia, Expatify melihat agentic commerce bukan sebagai alasan untuk meninggalkan website.
Justru sebaliknya.
Ini memperkuat kebutuhan brand untuk memiliki commerce architecture yang fleksibel, sehingga product, order, customer, checkout, integration, dan operations tetap dapat berjalan ketika titik discovery dan conversion mulai berpindah ke channel baru.
Shopify sedang bergerak dari sekadar platform webstore menjadi infrastructure yang dapat membawa merchant ke lebih banyak commerce surfaces.
Bagi merchant, tantangannya bukan hanya:
âBagaimana cara ikut channel baru?â
Tetapi:
âBagaimana memastikan setiap channel baru tetap terhubung dengan customer experience dan operation yang sudah dibangun?â
Itulah fondasi yang menurut kami akan menentukan kesiapan brand menghadapi fase berikutnya dari e-commerce.